Liga Indonesia

Tendangan Brutal di Liga 4 Jatim: Firman Nugraha Terkapar, PSSI Tuntut Hukuman Berat

Advertisement

Madura – Insiden mengerikan mewarnai laga Babak 32 Besar Liga 4 Zona Jawa Timur. Pemain Perseta Tulungagung, Firman Nugraha, menjadi korban tendangan brutal yang meninggalkan bekas luka di dadanya.

Luka Bekas Pul Sepatu

Tendangan keras itu dilancarkan oleh pemain PS Putra Jaya Pasuruan, Muhammad Hilmi Gimnastiar, pada pertandingan yang digelar di Gelora Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Senin (5/1/2026). Akibatnya, Firman sempat tersungkur dan harus ditandu keluar lapangan untuk mendapatkan perawatan medis.

Beruntung, Firman dilaporkan dalam kondisi sadar. Namun, luka bekas tendangan yang cukup dalam terlihat jelas di bagian dadanya.

Kondisi Pemain dan Respons Pelatih

Pelatih Perseta, Medi Radondo, menyatakan bahwa Firman dalam kondisi aman dan tidak sampai harus dilarikan ke rumah sakit. “Alhamdulillah aman, sudah sehat kembali. Tidak sampai dibawa ke rumah sakit, tapi dirawat di dalam ambulans,” ujar Medi, dikutip dari detikJatim.

Meski terlihat bugar, Firman mengaku masih merasakan sakit dan nyeri di dadanya. Ia juga menyebutkan bahwa pelaku sudah meminta maaf, namun merasa itikadnya kurang baik. “Sampai sekarang dada saya masih sakit, nyeri. Sudah (meminta maaf), Tapi, agak tidak ada itikadnya,” ungkap Firman, seperti dikutip dari akun Instagram Emosi Jiwaku.

Advertisement

Sorotan dan Instruksi PSSI

Aksi brutal Hilmi sontak menjadi sorotan publik sepakbola nasional. Tindakan tidak sportif seperti ini dinilai terus menghiasi kompetisi level bawah.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komite Disiplin PSSI, Umar Husin, telah menginstruksikan Panitia Disiplin (Pandis) Jatim untuk mengambil tindakan tegas. Ia menekankan pentingnya hukuman berat bagi pemain yang melakukan pelanggaran keras demi efek jera.

“Kami mengimbau kepada teman-teman yang menjadi Panitia Disiplin atau berperan sebagai Komite Disiplin di semua tingkatan liga untuk tidak ragu-ragu menghukum pihak-pihak yang melakukan pelanggaran-pelanggaran yang keras, brutal, sehingga tidak mengganggu jalannya kompetisi,” tutur Umar Husin.

Umar Husin menambahkan bahwa Komite Disiplin di tingkat daerah maupun Pandis harus bertindak tegas tanpa ragu. “Jadi itu penegasannya, agar Komdis di tingkat daerah ataupun Pandis (Panitia Disiplin) itu bisa bertindak tegas tanpa ragu-ragu begitu. Demi melindungi olahraga, khususnya sepak bola dan atlet. Terkait kejadian tersebut kami rasa harus dihukum seberat-beratnya, seperti larangan beraktivitas sepakbola seumur hidup,” tegasnya.

Advertisement